Karir Sekolah
Karir Sekolah
Taman kanak-kanak tempat saya belajar dulu bernama TK Aisyiyah 21. TK ini terletak di Jl. Balai Pustaka, Rawamangun. Sebelumnya saya pernah sekolah di playgroupnya yang tak jauh dari TK saya. Menurut saya TK itu seru, karena lebih banyak bermain daripada belajar. Sering sekali TK saya mengadakan outing class, dan itu sangat menyenangkan. TK saya bersebelahan dengan lapangan SD-nya, seringkali saya melihat anak-anak SD bermain di lapangan. Jadi TK saya merupakan bagian dari yayasan sekolah Muhammadiyah. Yayasan ini memiliki jenjang sekolah dari TK sampai SMA. Sempat terpikir oleh saya, bahwa nanti orang tua saya akan menyekolahkan saya di SD ini, tapi ternyata tidak.
Orang tua saya menyekolahkan saya di SD negeri. Dan ternyata SD itu bekas ibu saya sekolah dulu, masih ada beberapa guru ibu saya dulu yang mengajar disana. Pertama kali saya diajak kesana, saya bermain di TKnya, sementara nenek dan ibu saya berbicara dengan kepala sekolah. Jujur saya agak sedikit sedih karena teman-teman yang lain melanjutkan sekolah mereka di SD Muhammaiyah, sehingga saya sendiri di SD negeri. Tapi tak mengapa, mungkin bagi orangtua saya SD negeri lebih baik.
SD saya bernama SD Menteng 03. Saat diadakan tes seleksi masuk, saya merasa bisa mengerjakan semuanya. Di pengumuman hasil seleksi, saya berada di peringkat pertama dari puluhan anak lain yang berlomba masuk ke SD ini, sebuah prestasi yang cukup membanggakan.
Pada hari pertama masuk sekolah, saya sangat bersemangat. Jam 5 saya sudah siap untuk berangkat. Di waktu pelajaran berlangsung, banyak wali murid yang menunggu di depan kelas, ibu saya juga hadir di depan. Wali kelas saya di kelas 1 merupakan guru senior, dan salah satu guru yag mengajar ibu saya. Bu Denni namanya. Kesan pertama saya, Bu Denni itu galak dan tegas orangnya. Tapi lama kelamaan saya melihat sisi penyayangnya.
Di SD merupakan pertama kalinya saya mengenal olahraga basket. Saya melihat pertandingan basket NBA di TV, kalau tidak salah saat saya kelas 1. Seketika saya menyukainya. SD saya punya ekstrakurikuler basket dan punya tim basket yang top, saya pun memutuskan bergabung. Kemampuan saya dalam basket meningkat karena saya serius dalam mengikuti latihannya, dan bisa dikatakan saat class meeting antar kelas, saya menjadi pemain kunci :D. Hampir setiap pertandingan di class meeting kelas saya menang. Tapi kemampuan saya yang segitu masih belum mampu mengantarkan saya untuk masuk ke dalam tim basket. Saya semakin serius mengikuti latihan, dan akhirnya pada kelas 4 atau kelas 5 (saya lupa :D) saya berhasil masuk ke tim basket elite SD kami.
Cup sekolah yang paling saya ingat adalah Besuki Cup, karena tim kami meraih juara 1 setelah melalui final yang menegangkan, selain itu ada Percik Cup, karena itu merupakan piala terakhir persembahan saya dan anak kelas 6 lainnya sebelum kami fokus UN dan lulus.
5 tahun berlalu dengan cepat, tiba-tiba saya sudah menginjak kelas 6. Kelas 6 nampaknya menjadi momok menakutkan bagi para siswa, karena disinilah semua ditentukan. Nilai Ujian Nasional menentukan akan bersekolah dimanakah kita nantinya. Wali kelas saya, Pak Supri, bilang kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh, tak ada yang perlu ditakutkan. Semester 1 kelas 6 diisi dengan sedikit materi tambahan, lalu dilanjutkan dengan pengulangan materi dari kelas 1 sampai 6 sebagai bahan untuk Ujian Nasional. Barulah di semester 2 diisi dengan berbagai Try Out UN, Ujian Praktik, Ujian Sekolah, dan Ujian Nasional.
Banyak teman-teman saya yang membicarakan SMP impian mereka. Sebelumnya saya sudah tau bahwa SMP favorit sekarang adalah SMP 115 Tebet. Saya kepikiran, pasti membanggakan bisa melanjutkan sekolah kesana. Lalu saya tau SMP 216 Salemba dari teman-teman saya dan senior kakak kelas saya di tim basket. Banyak kakak kelas saya yang jago melanjutkan SMP di 216 dan juga SMP 216 merupakan SMP favorit di daerah Jakarta Pusat, jadi dengan mantap saya niatkan untuk masuk kesana agar bisa setim lagi.
NEM SD saya 27,45. Ibu meyakinkan saya untuk mengisi ke-3 slot pilihan sekolah dengan SMPN 216. Nem segitu cukup buat hati saya deg-degan saat menungu berakhirnya waktu penyeleksian online. Pasalnya saya terdepak lewat jalur umum sehari sebelum waktu penyeleksian berakhir. Untung saja saya punya kartu keluarga domisili Menteng, jadi saya masih bisa masuk SMP 216 lewat jalur lokal. Segera setelah waktu penyeleksian jalur lokal berakhir, saya dan keluarga bernafas lega.
Saya sama sekali belum pernah tau letak persis 216, benar-benar pertama kali saya lihat saat MOPDB dimulai. SMP 216 terletak di dalam sebuah kompleks pendidikan yaitu SDN Kenari, SMPN 216, dan SMAN 68, seberang Rumah Sakit Carolus, Salemba. Memang jarang yang tau SMP 216 itu dimana karena letaknya yang tertutupi.
Selama di 216, saya masih menekuni ekstrakurikuler basket. Di hari pertama latihan, terlihat banyak sekali peminatnya, tapi makin lama makin sedikit yng bertahan, mungkin karena pelatihnya yang tegas dan porsi latihan yang berat. Pelatih saya bilang, sebulan pertama latihan, anak baru hanya akan berlatih fisik, tidak ada pegang bola sama sekali. Pernah suatu ketika materi latihan fisiknya, kita harus 6x berlari mengelilingi kompleks dalam waktu 20 menit. Saya berhasil menyelesaikan putaran, tapi melewati batas waktu yang ditentukan. Jadinya saya dan teman-teman sepernasiban dihukum.
Karena menurut saya, waktu itu saya paling rajin latihan diantara anak baru lainnya, saya ditunjuk pelatih untuk masuk ke dalam tim inti dan bermain di Pekan Olahraga Kota. Di perlombaan tersebut, kami berhasil meraih juara 2. Lalu saya dan teman saya yang satu lagi disuruh bermain di tim inti dalam Pekan Olahraga. 216 menjadi wakil Jakarta Pusat, setelah mengalahkan SMP 77. Alhamdulillah, disini kami meraih gelar juara 1. Itu merupakan piala pertama saya sebagai juara 1 dalam pertandingan basket tingkat SMP.
Tak terasa, 2 tahun terlewat sudah, sekarang saya sudah menjadi anak kelas 9, dan harus menentukan pilihan akan masuk SMA mana serta jurusannya. Sebenarnya sudah sejak SD saya dikasih tau SMA favorit sama ibu saya, dan ibu saya juga almamater SMA tersebut. Ya, SMA 8.
Saya hanya ingin masuk SMA 8, tidak meniatkannya. SMA 68 juga tadinya tidak saya niatkan masuk, hanya berharap. Dan pada akhirnya saya jadi anak 68 IPS.
Saya merasa beruntung bisa masuk 68. Pasalnya saya telat ikut bimbel dan telat mengaktifkan mode fokus UN, sementara teman-teman saya sudah mengaktifkan mode fokus UN serta giat bimbel sejak awal kelas 9. Saya mau masuk 68 muncul ketika UNBK dimulai, sedangkan teman-teman saya yang lain ada yang sudah menginginkannya sejak lama. Nilai UN saya juga pas-pasan, dan hampir saja saya terdepak dari 68 IPS jalur umum. Saya yang hanya setengah-setengah mau masuk 68 bisa dapat, sedangkan teman saya yang benar-benar niat ada yang tidak dapat. Rencana tuhan tidak ada yang tahu, sepas-pasannya usaha kita jika memang sudah ditakdirkan pasti itu akan terjadi. Sebaliknya, sepenuh-penuhnya usaha kita jika kita memang tidak ditakdirkan, hal tersebut pasti tidak akan terjadi..
Sekian cerita perjalanan karir sekolah dari blogger amatiran ini, semoga ada manfaat yang dapat dipetik. Yang jeleknya dibuang aja yah... Terima Kasih
Komentar
Posting Komentar